Dengan terus berkembangnya dunia teknologi dan informasi dalam beberapa periode terakhir, alhasil semakin banyak bermunculan media baru yang menunjang sarana berkomunikasi. Hal ini juga dianggap sebagai era baru dalam berkomunikasi dan memberikan informasi. Tentu saja perkembangan yang berskala masif ini secara berangsur-angsur terus dimanfaatkan oleh banyak pihak, khususnya dalam proses penyebaran informasi yang dilakukan oleh media massa.
Globalisasi dan modernisasi yang melanda dunia ini secara tidak langsung juga mempengaruhi kinerja wartawan dalam dunia jurnalistik. Seiring berkembangnya zaman, dunia jurnalistik juga terus mengalami perubahan yang cukup pesat. Dari zaman alat cetak pertama yang dipelopori oleh Johann Gutenberg hingga iPad milik Steve Jobs. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi para penggiat media massa dalam mempublikasikan informasi dan berita yang mereka miliki. Hadirnya jurnalisme online seakan menawarkan sebuah cara mengakses berita yang lebih praktis bagi khalayak. Fenomena ini kemudian menjamur di seluruh penjuru dunia, beberapa media mulai membuat situs berita yang dapat diakses oleh semua khalayak secara cuma-cuma. Sebagian besar berasal dari media cetak yang kini seakan mulai mendapat ancaman dari jurnalisme online.
Di era yang super sibuk ini banyak dari pengkonsumsi informasi yang ingin mendapatkan berita secara praktis dan cepat, kebanyakan dari mereka terlalu malas untuk beranjak dari kursi lalu membeli surat kabar dan membukanya halaman demi halaman. Kemunculan jurnalisme online menjadi ancaman sekaligus tantangan bagi jurnalisme cetak. Tidak dapat dipungkiri bahwa penyebaran informasi lewat media internet bakal menjadi komoditas utama di kalangan wartawan. Tidak hanya khalayak, kebutuhan media massa dan wartawan itu sendiri untuk menyiarkan berita secepat-cepatnya bisa menjadi faktor utama untuk penggunaan internet di dunia jurnalistik.
Kira-kira sepuluh tahun dari sekarang, diperkirakan internet akan menjadi basis utama penyebaran berita. Munculnya beberapa gadget seperti iPad atau e-reader semakin membantu khalayak dalam mengakses situs berita online. Bahkan sebenarnya tidak perlu sesulit itu, hanya dengan bermodalkan telepon genggam kita sudah bisa mengakses situs berita yang kita inginkan. Koneksi internet pun tidak lagi menjadi tembok penghalang karena di tahun-tahun mendatang sinyal wi-fi atau area hotspot bukan sebuah barang langka.
Hal inilah yang terus dipikirkan dan menjadi momok menakutkan bagi pemilik media cetak. Ya, internet akan menjadi musuh yang siap membunuh mereka kapan saja. Seperti yang kita tahu, beberapa media massa cetak mengambil langkah dengan membuat situs berita online mereka. Untuk di Indonesia sebut saja tempointeraktif, Kompas.com, Republika Online, dan lain-lain. Situs ini hadir dengan berita yang kebanyakan hampir sama dengan apa yang sudah ada di versi surat kabar. Bahkan situs ini juga menyediakan e-paper dari surat kabar tersebut, yaitu sebuah duplikasi surat kabar tetapi dalam layar digital.
Cara tersebut cukup ampuh dalam menangkal “serangan” dari musuh mereka seperti detik.com atau VIVAnews. Walaupun menurut kami apa yang dilakukan perusahaan media massa cetak seperti sebuah percobaan “bunuh diri”, seakan media massa cetak menyerah secara perlahan pada musuhnya. Bagaimana tidak, hanya dengan membayar sekitar 3000 rupiah di warnet terdekat, seseorang bisa mendapatkan berbagai informasi berita dengan sekali “click” plus surat kabar yang ia inginkan dalam bentuk e-paper. Bandingkan jika membeli sebuah surat kabar dengan harga 2500 rupiah, tapi hanya mendapatkan satu eksemplar surat kabar tertentu saja. Fenomena ini akan terjadi dan sulit untuk dihindari. Mungkin – sebut saja – “revolusi media” ini tidak akan terjadi serentak di seluruh penjuru dunia. Negara berkembang di asia tenggara atau di Amerika Latin masih bisa menerima eksistensi surat kabar di tengah khalayak. Namun, perlahan tapi pasti, ini akan terjadi. Ditambah lagi dengan bahan baku kertas yang semakin lama semakin habis menjadi hambatan yang sulit diatasi. Rela atau tidak, media massa cetak akan bertekuk lutut dihadapan musuhnya.
Bagaimana dengan media massa elektronik seperti televisi dan radio? Dalam jangka waktu 10 tahun kami memprediksi belum ada perubahan yang terlalu signifikan dalam media massa elektronik. Radio masih akan tetap mengudara dan menyiarkan beragam berita, hanya saja kebanyakan dari stasiun radio tersebut akan lebih sering menyiarkan siarannya lewat internet dengan layanan streaming. Sedangkan televisi masih terlalu dini untuk “dimakamkan” dalam 10 tahun mendatang. Fitur audio-visual yang dimiliki oleh televisi masih akan memimpin dalam proses penyampaian informasi. Beberapa media massa televisi internasional memang sudah ada yang membuat web masing-masing seperti BBC atau NHK, tetapi media massa televisi lokal yang memiliki segmentasi menengah ke bawah pasti masih memiliki pemirsa setianya yang masih terlalu sulit beranjak dari televisi dan beralih ke dunia maya. Mungkin radio dan televisi masih membutuhkan waktu yang cukup lama untuk nantinya berafiliasi dengan internet seutuhnya.
Media massa memang dihadapkan dengan sebuah fenomena teknologi yang bernama internet yang semakin hari semakin memperlihatkan dominasinya. Sebagian dari mereka (media massa) ada yang akhirnya harus mengibarkan bendera putih, walaupun ada juga yang secara perlahan bermigrasi dan berubah bentuk ke dalam web. Saat ini dan 10 tahun mendatang, media massa akan mendapat perlawanan sengit dari “sekutu” internet, yaitu situs jejaring sosial yang semakin lama semakin mengancam media massa.
Pada awal kemunculannya, situs jejaring sosial murni digunakan khalayak sebagai media untuk menambah tali pertemanan. Era Friendster (FS) kini sudah ketinggalan zaman, Facebook (FB) lalu menyeruak dengan menawarkan berbagai macam fitur menarik. Serupa dengan FS, FB juga dijadikan media pertemanan yang cukup ampuh pada awalnya, tetapi beberapa pihak mulai melihat kesempatan untuk menjadikan FB sebagai ajang menyalurkan informasi atau berita. Orang-orang dari seluruh pelosok dunia bebas untuk mengolah lalu mempublikasikan hasil tulisannya. Belum sempat redup dengan FB, internet kembali dihebohkan dengan produk situs jejaring sosial yang baru, Twitter. Situs ini memiliki tampilan micro-blog dengan batas 140 karakter. Dalam perkembangannya, intesitas information update Twitter bisa melebihi FB. Akhirnya situs ini pun dimanfaatkan khalayak bebas untuk melakukan kegiatan jurnalisme (citizen journalism). Khalayak yang tadinya hanya menjadi consumer kini juga bisa berperan menjadi producer, dan merekalah yang disebut kalangan pro-sumer (producer-consumer).
Kegiatan citizen journalism yang dimudahkan oleh situs jejaring sosial ini kemudian (lagi dan lagi) menjadi tantangan tersendiri bagi media massa. Namun nampaknya hal ini tidak akan menjadi ancaman yang serius bagi media massa. Situs jejaring sosial ini justru bisa dimanfaatkan media massa sebagai sarana mengafiliasi kegiatan citizen journalism dan professional journalism. Saat sini aja sudah banyak media massa cetak dan elektronik yang mulai pintar memanfaatkan peluang tersebut. Sebut saja Metro Tv, TV One, dan Kompas yang masing-masing memiliki account di twitter dan FB untuk terus mengupdate berita mereka. Mereka sudah sangat sadar, kini hampir semua lapisan masyarakat telah berkumpul di dua jejaring sosial tersebut. Tidak hanya memberitakan, tapi mereka juga memperoleh berita dari sana. Kegiatan citizen journalism disana mereka olah menjadi kegiatan professional journalism.
Bahkan fenomena yang kemudian muncul adalah mencuatnya keberadaan “new media”. Sebut saja @infobandung , account twitter yang satu ini memfasilitasi pengguna account twitter untuk memberitakan dan mengetahui apa yang terjadi di daerah Bandung. Media ini memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk berbagi informasi dengan cepat. Ya, dalam bidang jurnalistik tampaknya twitter selangkah di depan ketimbang facebook. Twitter lebih banyak memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk memperoleh informasi yang cepat dan akurat.
Kemunculan Jejaring sosial yang memicu merebaknya citizen journalism ini sebenarnya bukan ancaman bagi media massa, justru ini menjadi ancaman bagi wartawannya sendiri. Lama-kelamaan khalayak membutuhkan berita aktual dan dikonsumsi secara cepat ditengah kesibukan. Jadi tidak menutup kemungkinan bahwa media massa akan memanfaatkan tenaga citizen journalism ini demi mendapatkan berita yang aktual langsung dari TKP.



