Pernah mendengar nama Vicky Vette? Belum? Coba ingat-ingat lagi.. .
NO GUYS! They’re not a porn star! Vickyvette yang satu ini bukan yang sering kalian lihat di situs-situs dewasa! Mereka adalah orang-orang kreatif yang positif. Ya, Rayhan (guitar, vocal), Praja (guitar), Merwyn (drum) dan Aceng (bass) adalah band Indie Rock Experimental asal Kota Bandung yang pernah menjadi finalis LA Lights lndiefest Vol.3 tahun 2008. Kabarnya, sebentar lagi Vickyvette akan me-release sebuah E.P Album.
Namanya yang unik, membuat saya tertarik untuk mengenal mereka lebih jauh. Benar saja, mereka adalah orang- orang yang cukup gila. Tidak hanya bicara tentang E.P Album, mereka juga berkomentar tentang kondisi musik indie di bandung, and also a bit about a porn. Sayang, Merwyn sang drummer tidak bisa ikut dalam wawancara gila ini.
Mari simak interview saya dengan mereka
Halo Vicky, bisa diceritakan bagaimana orang-orang gila seperti kalian bisa membentuk sebuah band?
Rayhan : Ya jadi kami itu dulu satu SMA,tahun 2006. Waktu itu gw dan Aceng nongkrong di depan kelas, maen gitar bareng-bareng nyanyi lagu-lagu Bloc Party. Loh kok enaak! Dari situ akhirnya kita punya wacana untuk bikin band. Beberapa bulan dari situ gw nemu orang yang jago main gitar namanya Praja. Sedikit kesulitan mencari drummer, tapi akhirnya ketemu kakak kelas namanya Merwyn. Dan ini formasi terbaik kita. I love you babes!
Lalu gimana kalian bisa menemukan Vickyvette untuk nama band?
Aceng : Waktu itu pas kelas 1 SMA gw sering main di warnet deket sekolah, download lagu sekalian download yang “lain”. Akhirnya dapet satu film Naughty America yang nama artisnya Vicky Vette. Gw pikir namanya bagus, dan kebetulan waktu itu gw suka sama band Vincent Vega yang namanya sama dengan director film tadi. Gw rekomendasiin ke anak-anak lain, dan mereka setuju.
Rayhan : Tapi bukan berarti musik kami identik dengan pornografi loh!
Wow! kalian suka menonton film porno?
Aceng : Suka, hahaha
Rayhan : Enggak munafik, suka juga
Praja : Boleh juga
Siapa artis porno favorit kalian?
Aceng : Sasha Grey, sama satu lagi, Mihiro!
Rehan : Gw sih Terra Patrick, Asia Carrera, Linda Mckay, dan satu lagi, mmh, Kim Kadasian
Praja : Carmen Electra (loh?), dan pastinya Vicky Vette
Oke kembali ke benang merah. Saat ini musik apa yang sedang kalian dengarkan (influence)?
Aceng : The Dillinger Escape Plan, album barunya Deftones, And As I Watch You From Afar, dan lagi suka banget sama Mastodon.
Praja : God Is An Astronout, Bloc Party masih gw putar terus tiada henti. Explosions In The Sky untuk ketenangan hati. Gw juga sedang mengamati perkembangan musik lokal di Bandung, jadi gw mendengarkan lagu-lagu mereka.
Rayhan : Radiohead dan Coldplay, andaikan ada orang yang bisa menggabungkan kedua vokalisnya dalam satu band, itu adalah hal yang luar biasa!
Biasanya, apa yang menginspirasi kalian untuk membuat lirik?
Rayhan : Mayoritas sih tentang cinta. Karena kita semua kan produk dari zaman-zaman romantis, enggak lepas dari masalah romantis, kita seneng film, kita seneng musik yang berbau cinta.. Tapi sekarang juga gw menulis lirik mengenai masalah sosial yang terjadi di negara kita. Pokoknya ya keadaan sehari-hari aja, yang penting spontan.
Sampai saat ini, band kalian terlihat solid, apa rahasianya?
Aceng : Kembali lagi ke pendewasaan, sejauh mana kita bisa menekan ego masing-masing di band dan saling terbuka
Praja : Intinya adalah keintiman sesama personel
Rayhan : Teamwork yang harus dipertahankan, egoisme masing-masing harus dihilangkan. Dan juga harus mengenali karakter masing-masing dan saling mengerti satu sama lain.
Dimana pengalaman manggung yang paling berkesan?
Praja : Di Fikom Unpad ya, waktu itu kita main terakhir dan sebelumnya hujan , kami mencoba iseng-iseng bikin teatrikal dan cukup menarik . dramatis lah
Rayhan : Di pensi SMAN 19 Bandung, disana kita kolaborasi dengan pemain biola dari STSI , dan apresiasinya juga cukup bagus, gw sangat puas. Dan disana Vickyvette “reborn” setelah mengalami masalah yang cukup pelik.
Aceng : Kalau gw di Final Regional LA Lights Indiefest yang di Sabuga. Soalnya kita disana main tanpa kru
Sebutan untuk fans kalian apa sih?
Rayhan : Kami menganggap penikmat musik kami bukan fans, tapi teman-teman yang mengapresiasi musik kami dengan baik , dan gw sangat menghargai orang-orang yang menghargai musik kami. Untuk teman-teman, kami sebut sebagai Balavivi, haha bercanda, yang bener Vicky Boys dan Vicky Girls.
Dengar-dengar kalian sedang sibuk untuk membuat sebuah E.P Album, kapan kalian akan "melemparkannya" ke pasaran?
Rayhan : Insya Allah awal juli ini. Sedikit cerita, sebenarnya konsep E.P sendiri sudah terbentuk Oktober 2009. Waktu itu gw berpikir Vickyvette ini belum punya karya nyata dalam bentuk fisik. Akhirnya gw merundingkannya dengan teman-teman untuk membuat album sebelum terlambat, takutnya materi-materi yang sudah kita buat terlalu matang malah jadi basi. Awalnya gw menargetkan Desember beres dan tahun baru keluar. Tapi sayangnya, manusia cuma bisa merencana, dan Tuhan yang menentukan, ada berbagai masalah yang menghambat, dari mulai mixing, mastering, juga masalah personel. Setelah pending beberapa kali akhirnya alhamdulillah kita akan segera release dengan tanpa label. Mohon doanya, semoga kita bisa mempersembahkan yang terbaik untuk publik.
Bisa berikan sedikit bocoran tentang E.P-nya?
Aceng : Sedikit bocoran, album nanti berisi 7 lagu, campuran dari lagu lama dan beberapa lagu baru. Dan kami menggunakan beberapa alat musik tradisional seperti suling dan kecapi. Bisa dibilang akan banyak warna di album nanti, soalnya kami banyak mencampurkan unsur etnik dengan indie rock experimental itu sendiri. Ya, tiap lagu memiliki karakternya masing-masing. Kurang lebih seperti itu.
Sedikit lebih serius, bagaimana menurut kalian kondisi scene indie di Bandung saat ini?
Praja : Menurut gw sih lagi berkembang ya, gigs mulai banyak, band-band baru juga banyak bermunculan, jadi sekarang lebih mudah untuk bertukar pikiran dengan mereka
Aceng : Bagus ya, gw percaya scene indie sekarang bisa menciptakan pasar juga seperti mayor. Karakter band-bandnya mulai variatif, persaingannya juga bagus. Ajang-ajang seperti ICEMA sangat mendukung pergerakan scene indie, semoga dengan adanya ajang seperti ini bisa mengangkat scene indie ke atas permukaan
Rayhan : Pendapat gw beda dengan yang lain , scene indie Bandung sekarang buruk ya, mengkotak-kotakan musik. Misalnya kita punya band, terus belum maju, ada beberapa komunitas yang bikin acara, kalau kita enggak kenal sama mereka, kita enggak diapresiasi dengan baik, itu yang gw sayangkan dari beberapa komunitas di bandung. Gw harap suatu hari semua dalam satu himpunan atau organisasi yang baik dan bisa maju sama-sama.
Definisi indie dalam musik sendiri menurut kalian apa?
Aceng : Do it yourself (DIY)
Praja : Indie itu musik yang muncul dari diri sendiri, jadi tanpa campur tangan dari pihak lain. Lahir dari imajinasi sendiri, kemasan sendiri dan ekspresi diri sendiri.
Rayhan : Kalau kata gw sih, indie mengacu pada yang kita ciptakan dan dilakukan sendiri. Tapi selama kita mendapat kesulitan, tidak menutup kemungkinan untuk dibantu orang lain yang kita anggap perlu. Ada orang yang bilang “ah itu enggak indie, mayor banget”, nah itu mereka bisa klasifikasi dari mana? Itu yang masih abstrak selama ini. Mindset orang-orang tentang indie itu masih abstrak.
Apa menurut kalian ajang yang pernah kalian ikuti sebelumnya sesuai dengan definisi “indie” kalian tadi?
Aceng : Yang kita ikuti terakhir sih masih bebas. Kreatifitas tidak dibatasi, kita recording enggak diatur-atur. Fine- fine saja kalau itu untuk mewadahi kami untuk berkreatifitas, bukan membatasi.
Rayhan : Ya enggak usah berpura-pura lagi, semua orang sudah tahu bahwa ajang yang kami ikuti itu (frontal) “major berkedok indie”. Kita sama-sama tahu kalau kontribusi yang diberikan disana tidak sedemikian “indie”. Tapi tidak memungkiri juga kita udah mengikuti ajang itu merupakan pengalaman yang luar biasa buat kita. Ya gw sih netral. Tapi ya miris juga sih melihatnya.
Praja : Gw sih kurang setuju dengan ajang seperti itu, dulu juga kita enggak diniatin ikut, cuma iseng-iseng aja, eh taunya berhadiah, hehe . Gw enggak suka dengan sistemnya yang kontrak lepas, lagu kami dibeli begitu saja dan bandnya dicampakan begitu. saja Enggak ada efek jangka panjangnya, musiman. Mereka seperti mengekspoitasi kami. Buat saya pribadi sih yang worthed sampai sekarang ya hadiahnya yang sekarang sudah jadi gitar. Hahaha.
Okay, jika tadi kita bicara tentang scene indie, bagaimana tentang scene porn di Indonesia, menurut kalian?
Aceng : Naik pesat! Berterimakasihlah pada Ariel Peterporn! Hahaha. Apalagi akses internet sekarang juga semakin mudah, sulit terbendung. Blog-blog lokal juga mendukung. Scene porn sendiri juga sudah berdiri dengan sangat “indie”. Hahaha
Rayhan : ehm, enggak dipungkiri ya , kemajuan teknologi, Bill Gates dan kawan-kawan sudah membuka mata kita lebih-lebar. Tapi ya ini salah satu bentuk penyalahgunaan teknologi yang sangat merugikan bagi orang lain. Ya hati-hati lah mempergunakan internet.
Praja : Sangat berkembang ya. Sarana dan prasarana sangat memadai . Sumber daya juga makin banyak.
Tapi katanya band kalian sempat diuntungkan karena kasus ini, bagaimana ceritanya?
Aceng : Ya jadi gw lagi iseng-iseng buka twitter, terus teman gw bilang “Vicky Vette yang asli nyariin band lu tuh” dan ternyata Vicky vette yang asli meng-update statusnya kurang lebih seperti ini ; “Btw.. a bit off topic from ARIEL PETERPORN, but there is a band in Indonesia called 'VickyVette' .. named after a certain person (no joke)” Gw manfaatkan kesempatan itu untuk memberikan link band gw ke dia. Dan ternyata tanggapan dari orang-orang juga banyak. Support-nya sejauh ini juga positif. Ya mudah-mudahan band kami juga bisa jadi trending topic di twitter.
Hahaha,how lucky you guys! Okay, for the last, explain your band in one word?
Aceng : Haaaaaaaah
Rayhan : Fukk!
Praja : Budi!
Terakhir dari yang terakhir, ada pesan untuk Ariel Peterporn?
Aceng : Fu*k
Rayhan : Keluar Dimana?
Praja : Antapani
Hahaha, well done Vicky, semoga sukses dengan E.P Albumnya. Untuk kalian yang penasaran dengan band yang sangat beruntung ini, klik saja link di bawah ini :
and for booking : Kendruw +6285720058538
Oleh Moch Boniex Nurwega (210110080088)


