oleh Moch Boniex Nurwega (210110080088)
Mendengar kata Kepiting, mungkin yang pertama ada di benak kalian adalah suasana pantai. Sore hari menatap sunset sambil menikmati kepiting saus tiram, yummy! Atau mungkin kalian akan kesal karena teringat sosok Mr.Crab, kepiting kikir yang sering mendzalimi Spongebob. Namun, tahukah kalian, binatang yang mampu berlari 12 jam dalam sehari selama lima hari tanpa istirahat atau berhenti sejenak ini juga bisa menginspirasi orang untuk bermusik! Tidak percaya? Saya pun kaget ketika pertama kali melihatnya di salah satu gig di Kota Bandung pada akhir 2009. Wow, ada band yang bergaya kepiting! Sebagai anak muda yang penasaran dengan hal-hal baru, saya mencari tahu, dari mana mereka terinspirasi gaya unik itu. Dan benar saja, ternyata mere
ka benar-benar terinspirasi kepiting.
Adalah Crabcore namanya. Mengangguk-anggukan kepala, berjongjongkok seperti seekor kepiting dan bergerak naik-turun pada waktu bersamaan menjadi “bumbu penyedap” bermusik yang digandrungi kebanyakan remaja saat ini. www.encyclopediadramatica.com menyebutnya sebagai genre baru dari post-hardcore. Banyak orang memperdebatkan soal ini, tapi (maaf) bagi saya Crabcore hanyalah sebuah style, menyebutnya sebagai genre musik adalah pelecehan. Tapi ya sudahlah, memperdebatkan genre bagi saya tidak penting, yang penting adalah bagaimana manusia bisa terus kreatif dalam bermusik.
Berterimakasihlah pada Attack Attack yang telah memperkenalkan gaya ini pada dunia. Band asal Ohio, Amerika Serikat ini pertama kali mempertontonkannya dalam video klip “Stick Stickly” tahun 2009. Pertama melihatnya, mungkin kalian akan membencinya atau tertawa terbahak-bahak. Tapi lama-kelamaan kalian akan menyukainya. Seperti yang saya alami ketika pertama kali melihatnya, tapi tentu tidak sampai ke tahap “menyukainya”.
Malik, pemain bass dari band Last January mengatakan gerakan ini memang asyik jika digunakan ketika bermain musik. “Gerakan crabcore itu pas dengan irama drum post-hardcore. Awalnya memang aneh, setelah saya peragakan, oke juga untuk memacu semangat.”, menurutnya. Tidak hanya Malik yang terhipnotis, Crabcore juga telah menghipnotis band-band lokal seperti Calasia into Catalyst asal Bandung dan Attack The Headline asal Jogjakarta. Ya, gaya ini memang diciptakan untuk menghipnotis penontonnya -terutama bagi kalian penganut mainstream-, berhati-hatilah!
Sebenarnya, gaya seperti ini bukanlah hal yang baru. Orang Jepang telah lama memperagakannya dalam sebuah seni tradisional Taiko (drum tradisional Jepang) yang terkenal sejak tahun 1950-an. Taiko digunakan untuk memompa semangat prajurit dalam peperangan dan kekhusyukan dalam upacara keagamaan, dan sekarang digunakan untuk hiburan. Coba perhatikan, orang Jepang melakukan gerakan Crabcore saat menabuhnya! Taiko adalah versi tradisional dan Attack Attack adalah versi modern.
Silahkan dicoba jika tertarik. Sementara kalian mencoba, saya sibuk mencari restoran seafood terdekat karena tidak tahan membayangkan kepiting saus tiram..
Sumber :
www.encyclopediadramatica.com
www.wikipedia.com
www.youtube.com
www.myspace.com
Jun 8, 2010
style
Archives
-
▼
2010
(14)
-
▼
June
(10)
- Komunitas Penggerak Scene Underground Bandung
- All Time Low : Band Penggemar Bra
- Studio Show : Ketika Ruang Berkreasi Semakin Sempit
- Siksakubur - Tentara Merah Darah (2010) : Rentetan...
- Moshing, Dansa Penuh Kontak Fisik
- Going Out : Sebuah Album Penuh Motivasi
- “Bukan Berarti Musik Kami Identik dengan Pornografi”
- GOR Saparua dan Hingar Bingar Musik Underground
- Melodi Untuk Negeri Pelangi
- Kepiting Juga Bisa Bermusik
-
▼
June
(10)


One Comment to “Kepiting Juga Bisa Bermusik”
kwkkw kang boniex kang boniex :v