Waktu itu saya masih berumur 10 tahun ketika tidak sengaja melewati sebuah gelanggang olahraga pada sore hari di akhir pekan tahun 2000. GOR Saparua namanya, konstruksinya tidak terlalu megah tapi memiliki ukuran yang sangat luas layaknya gelanggang. Memiliki pelataran parkir, lapangan basket, sebuah gedung olahraga, dan lapangan sepakbola yang rumputnya semakin menipis bak kepala Adrie Subono. Posisinya sangat strategis dengan akses jalan yang mudah dijangkau dari berbagai arah.
Sebagaimana mestinya sebuah gelanggang olahraga, kalau tidak dipenuhi oleh atlet-atlet professional paling juga disesaki orang-orang yang ingin sekedar berolahraga ringan. Tapi kala itu, tidak ada satupun sepatu olahraga bergambar “contreng” atau “tiga garis” yang biasa dikenakan orang awam untuk berolahraga, tak ada yang membawa peralatan olahraga. Yang ada hanya sepatu bot hitam dengan tebal sol yang tidak kalah dengan kamus bahasa Inggris-Indonesia, pakaian serba hitam dengan dihiasi aksesoris menyeramkan seperti duri atau rantai. Orang-orang itu berkumpul memenuhi area dalam dan luar Saparua. Sebagian dari mereka juga ada yang masih berjalan atau sekedar berkumpul di pinggir jalan.
Tentunya mereka datang bukan untuk berolahraga, dan setelah saya mencoba mencari tahu, mereka adalah orang-orang datang untuk menonton sebuah acara musik yang dihelat di Saparua. Kejadian serupa terjadi tidak hanya setahun sekali, tapi cukup sering. Sembilan tahun kemudian, akhirnya saya menemukan jawaban mengapa Saparua menjadi tempat yang “sakral” bagi para penggiat musik indie Bandung, khususnya scene Underground. Bagaikan sebuah kuil yang menjadi tempat bagi para jamaatnya melakukan ritus suci.
Semenjak tahun ‘90-an, Saparua memang sering dijadikan venue untuk menggelar konser musik indie Bandung. Puluhan penikmat musik underground kala itu selalu setia berdatangan untuk menonton band kesukaannya, lengkap dengan segala atribut seperti pasukan perang dengan baju zirah. Pemandangan seperti ini sudah lumrah, dimana kala itu kebanyakan anak muda di Bandung sedang terserang “virus” aliran musik Underground. Sebuah landskap yang kini semakin langka saya lihat di Saparua.
Ya, krisis yang dialami oleh scene Undergound semakin diperkuat dengan terjadinya “Tragedi AACC” di Bandung, 9 Februari 2008 silam. Sebuah konser musik band underground asal Bandung, Beside, yang menewaskan 11 orang. Kejadian ini seakan menjadi pukulan telak yang tidak dapat dihindari bagi kelangsungan scene Underground Bandung, dan menimbulkan Negative Impact kepada pecinta, penggiat, dan bagi aliran musik itu sendiri.
Semenjak itu, teman-teman dari scene Underground makin sulit untuk mendapatkan izin menggelar acara musik di berbagai tempat, apalagi di Saparua. Padahal di tempat itulah cikal bakal bermunculannya band-band lokal Bandung yang berkaliber Internasional. Sebut saja, Burgerkill, Forgotten, Jasad, Puppen, atau Koil. Mereka semua pernah merasakan panasnya euphoria saat masa jaya Saparua.
Beberapa kali para aktor scene Underground mencoba untuk menggelar konser musik serupa dengan mengahdirkan band-band senior dari komunitas Ujung Berung Rebels. Terakhir, mereka membuat sebuah konser musik metal terbesar dengan bintang tamu antara lain, Burgerkill, Jasad, Forgotten, Koil. Mencoba menghidupkan kembali panorama yang sudah lama terlupa.
Kini, GOR Saparua memang tak lebih dari sekedar bangunan tua yang ringkih dan hampir habis dimakan usang. Tapi apa yang sudah mereka (Scne Underground) lakukan di sana bertahun-tahun lalu akan menjadi fondasi kuat yang tak akan tergoyahkan. Sebuah semangat militansi berkobar kencang, bagaikan jilatan api siap membakar siapapun yang berani mengganggunya. (Bima Dwidiptayana/201110080231)
Jun 11, 2010
scene
Archives
-
▼
2010
(14)
-
▼
June
(10)
- Komunitas Penggerak Scene Underground Bandung
- All Time Low : Band Penggemar Bra
- Studio Show : Ketika Ruang Berkreasi Semakin Sempit
- Siksakubur - Tentara Merah Darah (2010) : Rentetan...
- Moshing, Dansa Penuh Kontak Fisik
- Going Out : Sebuah Album Penuh Motivasi
- “Bukan Berarti Musik Kami Identik dengan Pornografi”
- GOR Saparua dan Hingar Bingar Musik Underground
- Melodi Untuk Negeri Pelangi
- Kepiting Juga Bisa Bermusik
-
▼
June
(10)


2 Comments to “GOR Saparua dan Hingar Bingar Musik Underground”
Bima punya kelebihan di deskripsi.
Coba tambahin ilustrasi, Bim. Biar rame dikit. :)
makasih Izka, masih kurang puas sama hasil yg ini...nanti mau disempurnakan lg,hehe