Musik tiba-tiba berhenti, si vokalis lalu memberikan instruksi kepada penonton untuk membagi dua sisi kerumunan penonton, seperti Nabi Musa ketika membelah Laut Merah dengan tongkatnya. Setelah penonton terbagi ke dua kubu, dan menyisakan ruang kosong yang cukup besar di bagian tengah. Vokalis tersebut lalu memberikan aba-aba yang nampaknya sudah dimengerti oleh penonton. Dan ketika musik kembali menghentak, kedua kubu penonton tersebut langsung menabrakan diri satu sama lain. Menghempaskan badan ke badan lainnya. Sebuah momen epik penuh adrenalin.
Itulah gambaran kondisi sebuah konser musik Underground pada beberapa kesempatan lalu. Dan apa yang dilakukan oleh para penonton itu disebut “Wall of Death”, salah satu teknik dari sebuah tarian yang paling dikenal dalam dunia musik keras, Moshing. Mungkin banyak dari pembaca yang sering melihat tarian ini di banyak konser musik, dan membuat anda kemudian berpikir: “pada ngapain sih, ga sakit apa?”. Percayalah, anda tidak akan tahu jawabannya sebelum mengenali sejarahnya.
Kata “mosh” itu sendiri mulai populer ketika vokalis dari Bad Brains – salah satu band pionir dalam genre American Hardcore – yaitu H.R. menggunakan kalimat “to mash it up”, yang memiliki makna menggila-lah dengan hiruk-pikuk musik itu sendiri. Tetapi, dikarenakan lafal Jamaika-Amerika yang cukup kental, penonton pun mendengarnya sebagai “mosh” bukan “mash”.
Tarian ini dimulai pada medio 1975-1980 oleh subkultur Punk Los Angeles, Amerika Serikat. Diadaptasi dari tarian pogo yang biasa dilakukan oleh para penonton konser musik punk, lalu dikembangkan oleh orang-orang dari subkultur scene musik Hardcore Punk pada awal tahun 80-an. Dalam kemunculannya, ada sedikit perbedaan antara slam dancing dan moshing, dimana moshing dianggap lebih pelan dibandingkan slam dance yang gerakannya lebih gila-gilaan.
Moshing sendiri diperkirakan pertama kali muncul di daerah Orange County, California, pada awal kemunculan genre American Hardcore tahun 80-an. Bersamaan dengan munculnya band dari Los Angeles seperti Black Flag, Minor Threat, The Circle Jerks yang mempunyai tipikal musik lebih keras dari Punk Rock dan membutuhkan agresivitas tinggi. Pada akhirnya gerakan-gerakan seperti itulah yang bisa mereprentasikan apa yang mereka rasakan ketika mendengar musik-musik keras.
Di Amerika sana, konser musik biasanya diadakan pada malam hari akhir pekan. Setelah penat beraktivitas selama kurang lebih 5 hari, para penikmat musik keras ini lalu berdatangan untuk melepas stress. Beberapa orang beranggapan bahwa dengan menari ala slam dance mereka bisa melepaskan tekanan dan merasa lebih lega. Jadi seperti terapi? Hmmm.
Dan untuk menyamakan gerakan dengan ritme lagu, biasanya para penonton melakukan gerakan yang lebih ekstrem seperti body surving, dan stage diving. Atau membuat gerakan yang membutuhkan koordinasi dengan penonton lain seperti circle pit, dimana para penonton membuat sebuah lingkaran yang cukup besar, lalu lari berputar bersamaan seperti putaran angin puting beliung.
Jun 13, 2010
style
Archives
-
▼
2010
(14)
-
▼
June
(10)
- Komunitas Penggerak Scene Underground Bandung
- All Time Low : Band Penggemar Bra
- Studio Show : Ketika Ruang Berkreasi Semakin Sempit
- Siksakubur - Tentara Merah Darah (2010) : Rentetan...
- Moshing, Dansa Penuh Kontak Fisik
- Going Out : Sebuah Album Penuh Motivasi
- “Bukan Berarti Musik Kami Identik dengan Pornografi”
- GOR Saparua dan Hingar Bingar Musik Underground
- Melodi Untuk Negeri Pelangi
- Kepiting Juga Bisa Bermusik
-
▼
June
(10)



One Comment to “Moshing, Dansa Penuh Kontak Fisik”
Ini kan yang Bima kasih tau aku waktu di mobil yah, ternyata artikel sendiri toh. haha. Artikel yang menarik, Bim :)