“BANDUNG NEED SOME PLACE FOR GIGS !”, begitu kata band For Revenge siang tadi di facebook. Rasanya saya sangat setuju dengan mereka. Di Bandung, ruang berkreasi untuk para musisi –musisi yang baru saja ingin meniti karir terutama band-band dengan musik keras seperti mereka kini sudah semakin sempit. Rasanya terjadi diskriminasi disini. Bagi mereka, tempat-tempat yang terkenal dengan gigs bukan lagi Gedung AACC atau Dago Tea House, tapi Studio Elang, Studio Hanggar dan studio lainnya.
Ya, Studio Show namanya! Gigs di dalam studio musik -biasanya hanya digunakan untuk recording atau sekedar latihan-. Tidak heran, karena memang untuk membuat acara Studio Show tidak membutuhkan biaya yang banyak. Tidak perlu mencari sponsor dan embel-embel lain untuk mengadakannya. Kalian cukup mengeluarkan kocek 1-2jt, itu pun bisa ditutupi dengan patungan dan biaya kolektif dari band-band yang ingin main. Soal izin? Dijamin kalian tidak perlu berurusan dengan polisi, cukup dengan mendapat izin dari Pak RT dan Pak RW setempat (tentu) dengan sedikit uang pelicin, acara kalian sudah bisa jalan. Ya, bukan rahasia lagi jika Aparat sering memanfaatkan sebuah acara untuk memeras panitia, tapi setidaknya kalian tidak perlu mengeluarkan uang yang begitu banyak untuk perizinan Studio Show.
Menurut saya, menyulap studio musik menjadi tempat gigs adalah ide yang bagus, tapi sayang, kurang bagus untuk perkembangan bandnya itu sendiri. Kenapa? Pertama, untuk ikut serta dalam acara Studio Show, tiap band harus membayar biaya kolektif sebesar Rp.80.000-Rp.150.000. Bukankah seharusnya sebuah karya (baca : band) itu dihargai? Bukan justru malah harus mengeluarkan uang yang cukup besar untuk sekedar memperkenalkan karyanya pada publik. Kedua, orang-orang yang datang berasal dari komunitas bandnya itu sendiri. Begini misalnya, seminggu yang lalu kalian datang ke sebuah acara di Studio Hanggar, disana kalian bertemu dengan orang berambut gondrong berkacamata, saat itu band Dadidum main. Lalu Kemarin, kalian datang lagi ke acara studio show serupa dan band Dadidum main lagi, di sana kalian kembali bertemu dengan orang yang sama, bahkan baju yang ia kenakan pun masih sama! Dengan kata lain, bagaimana sebuah band bisa berkembang jika yang melihatnya adalah orang yang itu-itu juga? Ketiga, tempat yang kecil membuat orang-orang malas untuk menyaksikan band yang sama sekali tidak dikenalnya. Saya pernah menyaksikan band yang sama sekali tidak saya kenal, ketika saya masuk, udara begitu pengap, bahkan kacamata saya langsung berembun karena terlalu banyak orang yang berasal dari komunitas bandnya sendiri, akhirnya saya memutuskan lebih baik menunggu di luar daripada harus sesak napas di dalam. Yang paling diuntungkan? Tentu panitia dan band-band yang menjadi bintang tamu yang tidak perlu bayar untuk main disana. Kalau hanya untuk perform dengan dilihat teman-teman sendiri, lebih baik kalian mengundang teman terdekat sebanyak mungkin ketika latihan di studio.
Bukan bermaksud untuk memojokkan salah satu pihak, ini hanya curahan hati saya yang pernah menjadi bagian dari mereka (baca: Studio Show). Saya yakin Studio Show juga punya kenikmatan tersendiri, tapi alangkah baiknya jika kita punya tempat yang lebih besar dan nyaman untuk berkreasi, bukan? Sekali lagi, Bandung membutuhkan lebih banyak tempat untuk gigs, atau mungkin akan lebih bagus (jika memungkinkan) pemerintah menyediakan studio sebesar Gedung AACC.
Oleh Moch Boniex Nurwega (210110080088)
Jun 13, 2010
scene
Archives
-
▼
2010
(14)
-
▼
June
(10)
- Komunitas Penggerak Scene Underground Bandung
- All Time Low : Band Penggemar Bra
- Studio Show : Ketika Ruang Berkreasi Semakin Sempit
- Siksakubur - Tentara Merah Darah (2010) : Rentetan...
- Moshing, Dansa Penuh Kontak Fisik
- Going Out : Sebuah Album Penuh Motivasi
- “Bukan Berarti Musik Kami Identik dengan Pornografi”
- GOR Saparua dan Hingar Bingar Musik Underground
- Melodi Untuk Negeri Pelangi
- Kepiting Juga Bisa Bermusik
-
▼
June
(10)


2 Comments to “Studio Show : Ketika Ruang Berkreasi Semakin Sempit”
kreatif yahh!! tapi agak-agak miris bagemaaanaaa gitu.. Yes, you guys need room to have more appreciation!
good luck, and may music always be with us ;-)
gigs seharusnya ditulis miring. Di sini penulisannya dipisah, bukan digabung.
Kurang detail, masih murni opini sendiri. Kalau ada wawancara dengan pihak studio, dan dengan penonton setia, bakal lebih berwarna tulisanmu, Bon.
Good luck for your music :)